BLOGS

Menghitung ROI Dari Investasi Penggunaan Teknologi dan Transformasi Digital Bagi Bisnis
Menghitung ROI Dari Investasi Penggunaan Teknologi dan Transformasi Digital Bagi Bisnis

Semua investasi atas penerapan sistem technology dalam bisnis anda akan selalu memiliki empat pertanyaan besar (yang pada umumnya adalah empat prioritas strategis teratas perusahaan anda), yaitu antara lain:

1. Data real-time apa saja yang bisa Anda peroleh dan manfaatkan dari penggunaan teknologi, untuk mengoptimalkan proses bisnis dan memiliki keunggulan kompetitif? 

2. Bagaimana bisnis Anda dapat memanfaatkan teknologi dan machine learning untuk memastikan bahwa bisnis anda beroperasi dengan secepat dan seefisien mungkin?

3. Bagaimana Anda bisa memanfaatkan data dari berbagai perangkat (devices) yang terkoneksi dengan teknologi, termasuk perangkat yang bisa dikenakan (wearables) dan perangkat lain seperti mesin/elektrik/kendaraan yang terhubung dengan teknologi,  untuk mengukur bagaimana teknologi membawa dampak dan mempengaruhi kinerja individu dan bisnis?

4. Bagaimana Anda memanfaatkan teknologi dan data analytics yang dihasilkannya untuk mendukung menciptakan produk dan keunggulan baru dalam industri bisnis Anda?

Pada akhirnya, dengan semua tech-innovation tersebut, bagaimana konsumen bisa melihat keunggulan bisnis anda dibanding dengan kompetitor anda?

Menjadikan semua layanan digital anda berfokus pada memperdalam consumer experience dengan brand/bisnis anda melalui koneksi platform seluler yang konsumen miliki dan juga memberikan nilai tambah (added-value) bagi konsumen bila menggunakan produk atau layanan dari bisnis anda, adalah kunci utama dalam menjawab apa sebenarnya objectives dan ROI dari investasi teknologi anda.

Jangan lupa kunjungi artikel lainnya, untuk melihat Perubahan Perilaku Konsumen Digital Yang Perlu Dipahami Bisnis

30 Sep 2021

Sukses Digital Marketing Dengan Memanfaatkan LinkedIn
Sukses Digital Marketing Dengan Memanfaatkan LinkedIn

Menerapkan strategi digital marketing untuk membidik segmen pasar B2B sangatlah berbeda dengan model bisnis lain. Perbedaannya, terletak pada cara keduanya mengakuisisi dan mengkonversi pelanggan atau pengguna berbayar.  Pemasaran melalui Social Media Marketing  tetap berfungsi untuk mengembangkan segmen bisnis B2B anda, salah satunya lewat LinkedIn.

Berbicara tentang LinkedIn, dengan data demografisnya yang terakhir.
Number of total users: 738 million.
Largest age group: 46-55.
Gender: 51% male, 49% female.
63% mengakses LinkedIn secara mingguan, and 22% mengakses LinkedIn secara harian.

Dari data tersebut terlihat bahwa LinkedIn memiliki audiens yang mayoritas berusia lebih tua (senior). Meskipun demikian, sekitar seperempat pengguna platform LinkedIn adalah generasi millennials. Demografis pengguna yang berpendidikan lebih tinggi, work experience yang tinggi dengan tingkat penghasilan yang lebih tinggi menjadikan LinkedIn sebagai tambang emas potensial untuk iklan.

Tidak heran bila nuansa sosial di LinkedIn dengan jaringan audiensnya yang berada di posisi decision maker, lebih mengarah kepada lead generation untuk segmen B2B.

Menurut LinkedIn sendiri, ini adalah jejaring sosial media teratas untuk menghasilkan #leads prospek bisnis, menjadikannya sumber yang bagus bagi banyak bisnis yang ingin menemukan audiens yang tertarget. Lebih dari 70% pengguna LinkedIn tinggal di luar AS, menghadirkan peluang bagi bisnis dan brand yang ingin mengembangkan audiens internasional.

Anda mungkin membutuhkan ratusan ribu pengguna agar bisnis B2C Anda berjalan dengan baik. Sebaliknya, Anda mungkin hanya memerlukan sepuluh hingga dua puluh pengguna untuk produk atau layanan B2B Anda. 

Kunjungi artikel lainnya untuk mendapatkan insights tentang bagaimana lead generation dan #techinnovation meningkatkan performa banyak bisnis. 

30 Sep 2021

Bagaimana FOMO Berfungsi Sebagai Strategi Leads Conversion Dalam Digital Marketing
Bagaimana FOMO Berfungsi Sebagai Strategi Leads Conversion Dalam Digital Marketing

Masih menyimpan data database dari musim liburan holiday season tahun lalu? Meskipun pandemi covid19 masih saja berlangsung, tapi datanya bisa dimanfaatkan untuk jadi Strategi Leads Conversion.

Salah satunya adalah strategi Countdown atau menampilkan penghitung waktu mundur pada pop-up di website Anda. Set countdown ke waktu dan tanggal yang telah ditentukan saat penawaran spesial anda berakhir.

Mengapa strategi ini hampir selalu berhasil?
Karena ada Urgensi! 

Timbulnya perasaan #FOMO (Fear Of Missing Out) membantu mempengaruhi psikologis pembeli. Dan FOMO ini semakin meningkat selama weekend atau saat liburan, karena semua orang terburu-buru untuk memastikan produk-produk leisure tersebut tiba tepat waktu, yakni tepat sebelum weekend mulai! Dan konsumen akan segera menekan tombol buy now atau purchase jika mereka pikir mereka akan kehilangan kesempatan untuk membeli ketika penawaran berakhir.

Dalam Marketing, strategi FOMO ini memanfaatkan perasaan khawatir konsumen dengan tujuan supaya mereka bisa melakukan pembelian lebih cepat. Karena jika tidak cepat, mereka akan kehilangan kesempatan membeli produk tersebut. Baik itu suatu produk diskon, produk yang dijual dalam jumlah terbatas atau lainnya.

FOMO sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru di dalam dunia marketing. Sejak sebelum ledakan gelombang digital dan teknologi, sudah banyak brand ternama yang memakai strategi marketing FOMO. Namun dengan munculnya Internet, strategi ini menjadi lebih mudah dan lebih efisien untuk dilakukan.

Dari data Shopify 2020, tingkat #consumerengagement rata-rata dari strategi “Countdown” adalah: 8,82% Rata-rata tingkat konversi countdown: 5,44%.
Bagaimana strategi pemanfaatan data dan insights dapat menaikkan sales dan keterlibatan konsumen anda, silakan kunjungi artikel lainnya untuk mendapatkan informasi strategi pengembangan bisnis anda. 


30 Sep 2021

Karakter Konsumen Indonesia Yang Mobile-First Dan Digital
Karakter Konsumen Indonesia Yang Mobile-First Dan Digital

Tidak diragukan lagi! Indonesia itu mobile-first, saat ini ada lebih banyak koneksi seluler (345,2 juta penduduk) dibandingkan populasi penduduknya yang tercatat (273,5 juta penduduk) pada Maret 2021.

Dan karakter konsumen Indonesia menghabiskan rata-rata delapan (8) jam atau lebih per harinya berselancar di internet melalui gadget mereka (mobile first). Tiga (3) jam diantaranya berada di berbagai social media yang ada.

Tidak mengherankan kalau 67% orang Indonesia melakukan pembelian segala kebutuhan harian mereka melalui smartphone mereka. Dan kebanyakan brand baru mulai belajar bagaimana cara memasuki pasar yang sangat masif, besar (dan sangat kompleks) ini. Memiliki dan kelola banyak toko online 

Dalam sebuah riset oleh Alvara 2019, disebutkan bahwa sembilan perilaku utama generasi milenial Indonesia, yaitu kecanduan Internet, loyalitas rendah, cashless, kerja cerdas dan cepat, multitasking, suka jalan-jalan, cuek dengan politik, suka berbagi, dan yang terakhir kepemilikan terhadap barang rendah.

Internet telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat di Indonesia. Hampir semua aktivitas membutuhkan dukungan internet, seperti browsing, chatting, petunjuk peta jalan, layanan transportasi, hingga donasi online. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) pada Mei 2019, jumlah pengguna internet di Indonesia tumbuh 10,12%, dari tahun 2017 yang mencapai 54,85% dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun.

Konsumen berpindah-pindah dari satu gadget ke gadget lainnya, dari satu channel ke channel yang lain, dan saling silang antara dunia online dan offline. Strategi omnichannel yang meilbatkan integrasi marketplace sebagai solusi ecommerce membutuhkan dukungan dari marketplace enabler. Integrasi multiplatform dan integrasi payment gateway memudahkan pergerakan stream data dan transaksi. 

Solusi omnichannel dengan integrasi multiplatform seperti marketplace dan social media, tak hanya memudahkan bisnis memegang kendali atas data flow, payment flow dan juga perpindahan konsumen dari platform ke platform lain dalam perjalanan consumer experience mereka bersama brand


Baca juga Strategi Omnichannel Berbasis Data My Starbucks Card untuk case study lain dalam penerapan integrasi marketplace sebagai solusi omnichannel.

30 Sep 2021

Pentingnya Metriks Dalam Digital Marketing
Pentingnya Metriks Dalam Digital Marketing

Pernahkah anda mendengar istilah kalau dunia Marketing itu penuh dengan metriks palsu atau sering disebut dengan istilah vanity metrics?

Anggapan semacam ini pada umumnya muncul disebabkan karena yang sering terjadi adalah kebanyakan pekerja Marketing sibuk menyajikan angka-angka yang sekedar ditarik dari beberapa dasbor sosial, menunjukkan angka seperti number of followers, number of likes, hingga engagement rates atas sebuah konten kreatif yang terkadang tidak memiliki objectives yang sejalan dengan tujuan utama bisnis atau brand tersebut.

Terlalu banyak pihak yang salah mengartikan divisi Marketing sebagai sebuah divisi yang semata-mata tentang pembuatan konten kreatif, kampanye branding dan beriklan , dimana di sisi lain, para pemegang kepentingan sebuah bisnis / perusahaan memandang divisi tersebut justru sebagai key business driver to growth (kunci utama pertumbuhan bisnis tersebut).

Pentingnya adanya alignment antara transformasi digital dengan objectives utama bisnis menjadi sangat krusial disini.

Alignment tersebut mencakup penentuan metriks-metriks utama di setiap titik  consumer-journey bersama bisnis tersebut, dan juga mengkomunikasikan sedang berada di titik mana dan metriks apa yang sedang diukur di setiap tahapan kegiatan digital marketing yang sedang dilakukan pada periode waktu tertentu. Penggunaan funnel umum dilakukan untuk menggambarkan hasil dari setiap pengukuran metriks di setiap tahapan aktivitas Marketing dan Customer-Journey. 

30 Sep 2021