
Pernahkah anda mendengar istilah kalau dunia Marketing itu penuh dengan metriks palsu atau sering disebut dengan istilah vanity metrics?
Anggapan semacam ini pada umumnya muncul disebabkan karena yang sering terjadi adalah kebanyakan pekerja Marketing sibuk menyajikan angka-angka yang sekedar ditarik dari beberapa dasbor sosial, menunjukkan angka seperti number of followers, number of likes, hingga engagement rates atas sebuah konten kreatif yang terkadang tidak memiliki objectives yang sejalan dengan tujuan utama bisnis atau brand tersebut.
Terlalu banyak pihak yang salah mengartikan divisi Marketing sebagai sebuah divisi yang semata-mata tentang pembuatan konten kreatif, kampanye branding dan beriklan , dimana di sisi lain, para pemegang kepentingan sebuah bisnis / perusahaan memandang divisi tersebut justru sebagai key business driver to growth (kunci utama pertumbuhan bisnis tersebut).
Pentingnya adanya alignment antara transformasi digital dengan objectives utama bisnis menjadi sangat krusial disini.
Alignment tersebut mencakup penentuan metriks-metriks utama di setiap titik consumer-journey bersama bisnis tersebut, dan juga mengkomunikasikan sedang berada di titik mana dan metriks apa yang sedang diukur di setiap tahapan kegiatan digital marketing yang sedang dilakukan pada periode waktu tertentu. Penggunaan funnel umum dilakukan untuk menggambarkan hasil dari setiap pengukuran metriks di setiap tahapan aktivitas Marketing dan Customer-Journey.


